IMG-LOGO
Berita Lokal

Sejarah Desa

Create By Chasan Qomar 20 May 2011 123 Views

Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang

Di masa yang sangat lampau, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Desa Purworejo bukanlah sebuah desa seperti saat ini. Dahulu kawasan ini masih berupa hutan lebat, dipenuhi pepohonan besar, semak belukar, dan sumber-sumber air alami yang mengalir di antara perbukitan serta lahan yang masih liar. Belum ada batas dusun, belum ada sawah yang tertata, dan belum ada jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.

Seiring berjalannya waktu, datanglah para leluhur dan perintis yang membuka wilayah tersebut. Dengan peralatan sederhana dan semangat hidup yang kuat, mereka mulai melakukan babat alas—membuka hutan sedikit demi sedikit untuk dijadikan tempat tinggal dan lahan pertanian. Proses itu tidak berlangsung singkat. Mereka hidup berdampingan dengan alam, mengikuti aliran air, mencari tanah yang subur, dan membangun kehidupan secara bertahap.

Dari perjuangan itulah kemudian lahir sebuah wilayah yang diberi nama Purworejo.

Nama Purworejo dipercaya berasal dari kata “Purwo” yang berarti permulaan atau awal dan “Rejo” yang berarti ramai, makmur, dan sejahtera. Nama tersebut menjadi harapan para pendahulu agar tempat yang dahulu hanyalah hutan ini dapat menjadi awal kehidupan yang ramai, berkembang, dan membawa kesejahteraan bagi generasi berikutnya.

Namun sejarah Desa Purworejo tidak hanya tentang pembukaan hutan. Ada sumber kehidupan yang sejak dahulu dipercaya menjadi pusat berkembangnya desa, yaitu mata air Tuk Manuk.


Tuk Manuk: Awal Kehidupan dan Jejak Masa Lampau

Di antara wilayah Desa Purworejo, Desa Soroyudan, dan Desa Surodadi, terdapat sebuah mata air yang dikenal dengan nama Tuk Manuk.

Bagi masyarakat Purworejo, Tuk Manuk bukan sekadar sumber air. Tempat ini dipercaya sebagai salah satu titik awal tumbuhnya kehidupan di wilayah desa.

Menurut cerita turun-temurun, di kawasan sekitar Tuk Manuk sering ditemukan batu bata kuno saat masyarakat mengolah tanah. Penemuan tersebut memunculkan keyakinan bahwa di lokasi tersebut dahulu pernah berdiri sebuah kawasan penting pada masa lampau, bahkan sebagian masyarakat mengaitkannya dengan peninggalan kerajaan.

Cerita itu semakin kuat karena di dekat sumber air terdapat sebuah bangunan kecil menyerupai candi. Dari sinilah kemudian kawasan tersebut dikenal dengan nama Candi Gondang, yang hingga sekarang masih menjadi bagian dari wilayah Dusun Gondang.

Meski kisah tersebut hidup sebagai legenda masyarakat dan belum menjadi catatan sejarah resmi, keberadaannya tetap menjadi bagian dari identitas budaya Desa Purworejo.

Selain nilai sejarahnya, Tuk Manuk juga memiliki peran nyata hingga sekarang. Sebagian besar aliran airnya dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian, menghidupi sawah dan ladang warga.


Dusun Wonolelo

Hutan yang Dijelajahi dan Dibuka Menjadi Kehidupan

Salah satu wilayah yang berkembang dari pembukaan hutan adalah Dusun Wonolelo.

Nama Wonolelo dipercaya berasal dari bahasa Jawa:
Wono berarti hutan dan Lelo berasal dari kata nglelo yang berarti mengembara, menjelajah, atau menelusuri dengan kesungguhan.

Wonolelo dapat dimaknai sebagai hutan yang dijelajahi dan dibuka dengan perjuangan.

Konon wilayah ini dahulu merupakan kawasan hutan yang cukup luas. Para leluhur harus berjalan jauh, membuka semak dan pepohonan, lalu menetap sedikit demi sedikit hingga terbentuk permukiman.

Nama Wonolelo menjadi simbol bahwa kemakmuran tidak datang secara instan, tetapi melalui perjalanan panjang dan kerja keras.


Dusun Gondang

Tempat Berteduh dan Tumbuhnya Kehidupan

Di sebelah Wonolelo berkembang wilayah yang dikenal sebagai Dusun Gondang.

Nama Gondang dipercaya berasal dari nama pohon gondhang, pohon besar yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut.

Pohon besar itu menjadi tempat berteduh para perintis desa ketika membuka wilayah sekitar. Karena keberadaannya yang menonjol, masyarakat kemudian mengenal kawasan itu sebagai Gondang.

Dusun ini semakin dikenal karena menjadi lokasi Candi Gondang dan berdekatan dengan Tuk Manuk, yang menjadikannya salah satu wilayah yang sarat cerita sejarah.


Dusun Nabin Wetan dan Nabin Kulon

Kampung Air dan Warisan Alam

Di sebelah barat Dusun Gondang terdapat dua dusun yang saling berdampingan, yaitu Dusun Nabin Wetan dan Dusun Nabin Kulon.

Kedua wilayah ini sejak dahulu dikenal sangat dekat dengan sumber air.

Di Nabin Wetan, terdapat sumber mata air besar yang dikenal dengan nama Beji.

Dalam budaya Jawa, beji sering dimaknai sebagai sumber air yang suci dan menjadi pusat kehidupan masyarakat.

Menurut cerita masyarakat, dahulu terdapat sebuah gua di kawasan Beji yang dipercaya memiliki jalur hingga menuju Tuk Manuk. Walaupun belum pernah dibuktikan secara ilmiah, cerita tersebut diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian dari sejarah lisan desa.

Di kawasan yang lebih tinggi dari mata air Beji terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai makam Nyai Dewi Sekar Taji, yang berada di samping pohon beringin besar.

Masyarakat memandang tempat ini sebagai bagian dari warisan masa lampau yang patut dihormati.

Ada pula cerita yang masih sering disampaikan hingga sekarang bahwa wilayah Nabin Wetan sangat sulit dibuat sumur. Banyak warga yang mencoba menggali tetapi tidak berhasil memperoleh sumber air sebagaimana daerah lain, sehingga masyarakat lebih mengandalkan mata air alami.

Sementara itu, Nabin Kulon berkembang menjadi wilayah pertanian dan permukiman yang menopang kehidupan masyarakat hingga sekarang.


Dusun Pondohan

Tempat Singgah dan Cerita dari Tanah Keraton

Apabila berjalan terus ke arah barat dari Nabin Kulon, akan terlihat bentangan sawah yang sangat luas dan panjang.

Di ujung hamparan pertanian tersebut berdiri Dusun Pondohan.

Menurut cerita para sesepuh, nama Pondohan berasal dari kata pondhok atau pondhohan, yang berarti tempat singgah atau tempat menetap sementara.

Konon, wilayah ini dahulu menjadi tempat pelarian atau persinggahan kelompok masyarakat yang memiliki hubungan dengan Kraton Yogyakarta.

Cerita itu diperkuat oleh masih dikenalnya istilah-istilah lama seperti Penewu dan Penatus, yang dalam sistem pemerintahan Jawa dahulu berkaitan dengan pembagian wilayah dan kepemimpinan.

Meski tidak tercatat secara resmi dalam sejarah kerajaan, cerita ini tetap hidup sebagai warisan budaya yang menunjukkan adanya pengaruh tata kehidupan Jawa pada masa lampau.


Dusun Bangsari

Semangat Perlawanan yang Menjadi Identitas

Salah satu dusun yang memiliki kisah paling kuat adalah Dusun Bangsari.

Dahulu wilayah ini dikenal dengan nama Dusun Mbangkang.

Kata mbangkang dalam bahasa Jawa berarti membangkang atau menentang.

Nama tersebut muncul karena masyarakat di wilayah ini dikenal berani menolak aturan-aturan yang dianggap memberatkan pada masa penjajahan.

Semangat perlawanan itu menjadi identitas masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, nama tersebut kemudian diubah menjadi Bangsari agar lebih mencerminkan kehidupan yang harmonis, tanpa menghilangkan nilai keberanian para leluhur.

Di dusun ini juga terdapat mata air dengan rasa air yang sangat manis. Dahulu para pemimpin desa sering mengambil air dari tempat tersebut untuk kebutuhan minum dan memasak.


Dusun Manggis

Kesuburan yang Menjadi Penanda Wilayah

Di bagian lain Desa Purworejo terdapat Dusun Manggis.

Nama ini dipercaya berasal dari banyaknya pohon manggis yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut.

Tanah yang subur membuat tanaman berkembang baik dan menjadi ciri khas wilayah.

Karena itulah masyarakat menamai daerah tersebut sebagai Dusun Manggis.

Dalam filosofi Jawa, pohon manggis melambangkan kesederhanaan, keteguhan, dan manfaat bagi kehidupan.


Kepemimpinan Desa dari Masa ke Masa

Perjalanan Desa Purworejo juga dibentuk oleh para pemimpin yang memimpin dan menjaga keberlangsungan pembangunan desa.

Adapun kepala desa yang tercatat adalah:

  • Kepala Desa I : ABDULLAH SADJAD (1945–1988)
  • Kepala Desa II : ABDULAH PEKIH (1945–1988)
  • Kepala Desa III : WALUYO SETYO (1988–1998)
  • Kepala Desa IV : MAHMUDI (tahun belum tercatat)
  • Kepala Desa V : H. M SIDIK (2007–2019)
  • Kepala Desa VI : SUDJARNO, S.Sos. (2020–2025)

Kini, Desa Purworejo telah tumbuh menjadi desa yang maju dengan kehidupan pertanian, kelembagaan desa, dan masyarakat yang terus berkembang.

Namun di balik kemajuan itu, tetap tersimpan cerita panjang tentang hutan yang dibuka para leluhur, mata air yang menghidupi desa, dusun-dusun yang lahir dari perjalanan sejarah, serta nilai gotong royong yang terus dijaga hingga hari ini.

 

Dari hutan menjadi permukiman, dari legenda menjadi identitas, dan dari masa lalu menjadi pijakan untuk melangkah menuju masa depan.